Kamis, 05 Februari 2015

Air yang Diabaikan, Promosi yang Digencarkan

    Air terjun dan sungai Sri Gethuk di Gunungkidul. Foto via jogjapiknik.com

    Menjadi dilematis bagi kota pariwisata seperti Yogyakarta ketika harus menjual daya tariknya sebagai komoditas kunjungan. Di sisi lain, struktur kota kebanyakan di Indonesia terlambat merespon percepatan pembangunan swasta yang menguras sumber daya dasar penunjang kehidupan.
    Tanggal 2 Februari 2015 kemarin Tribun Jogja (harian kelompok Kompas Gramedia) melansir hasil observasi tim khusus dari Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) yang menyatakan persediaan air tanah wilayah Yogyakarta turun rata-rata 30cm setiap tahun.
    Pembalakan liar, pertambangan pasir ilegal, sampai penyedotan air tanah dalam jumlah besar oleh hotel-hotel memperparah proyeksi ini di tahun-tahun mendatang. Jika krisis terus terjadi Kota Gudeg dan sebagian besar wilayah Yogyakarta terancam krisis air pada 2030.

    Sementara wilayah konservasi air di lereng Merapi terus terkikis, di hilir beberapa embung menurun produktivitasnya. Kepala BTNGM Edy Sutiyarto secara khusus mencatat beberapa embung seperti Mateng, Bebeng dan Wadon di wilayah kecamatan Cangkingan yang debit airnya berkurang banyak dalam satu tahun terakhir.

    Di kota, tajuk utama ini tampaknya bukan kejutan besar. Sejak Juli 2014 lalu warga di beberapa wilayah Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa "Selamatkan Air Tanah" yang memprotes keringnya sumur-sumur mereka setelah jumlah hotel di sekitar bertambah. Imbas reaktifnya, pemerintah kota kerap melakukan razia penggunaan air tanah untuk keperluan jasa perhotelan. Pada September lalu, 3 hotel di kota Yogyakarta disegel sumurnya karena dianggap menyalahi perizinan dan aturan. Tapi berminggu-minggu setelah itu, protes kembali tersulut untuk hotel-hotel lain di berbagai wilayah setingkat RT dan RW.

    Promosi Gencar

    Paradoks terjadi ketika permasalahan mendasar seperti susutnya air tanah dan krisis air di hulu Merapi bertabrakan dengan promosi gencar pemerintah Kota Yogyakarta mengundang wisatawan.

    Okelah, tingkat kunjungan wisatawan ke Indonesia yang ditargetkan 9,3 juta di awal 2015 ini merupakan tujuan bersama, dan Yogyakarta terus berjuang untuk "merebut hati" calon wisman yang lebih gemar ke Bali. Presiden Joko Widodo 4 Februari kemarin bahkan terberitakan optimistis kunjungan wisatawan di akhir 2015 bisa mencapai angka fantastis 20 juta jiwa.

    Tapi, apa intinya? Yogyakarta tidak akan rugi jika menyeimbangkan dana dan upaya promosi wisata dengan kepentingan daya sokong mendasar kotanya seperti ketersediaan air bersih. Jika data dari BTNGM sudah keluar, mengapa Pemerintah Provinsi belum bersuara? Promosi gencar untuk menarik wisata mengkhawatirkan jika sumber daya dasar kota diprediksi menyusut dalam lima atau enam tahun mendatang. Target kunjungan kumulatif dalam jangka menengah dan panjang akan turut sia-sia.

    Apalagi, Yogyakarta kini mulai menjual wisata air sebagai komoditas unggulan pasar wisata domestik maupun mancanegara. Mengapa konservasi air jadi penting? Karena Gua Pindul dan Air Terjun Sri Gethuk yang masyhur itu butuh suplai air abadi, begitu pula belasan daerah proyek pilot untuk promosi wisata air.

    Yogyakarta perlu menyiapkan diri. Lebih pentingnya, menyusun strategi jangka panjang agar keberlangsungan pariwisatanya tetap tersokong baik dari hulu ke hilir.

    "Tidak hanya warga lereng Merapi, masa depan Yogyakarta tergantung konservasi air di wilayah Merapi. Jika saat ini pemerintah tidak bisa diandalkan bagaimana masyarakat bergerak menyikapi permasalahan ini,"
    - Kepala BTNGM Edy Sitiyarto 

    -----------------
    Laporan lengkap Tribun Jogja "Air Tanah Turun 30cm per Tahun" bisa dibaca di sini. (Issuu.com)

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Bagaimana menurut Anda?